Sabtu, 07 Maret 2009

Info Peluncuran Buku Hama Pemukiman

Sebenarnya permukiman dapat mencegah timbulnya masalah hama yang mengganggu penghuninya, yaitu dengan cara menjaga dan mengelola lingkungan sedemikian rupa sehingga tidak kondusif bagi keberadaan hama


Prof Singgih Luncurkan Buku Hama Permukiman

Bogor – Dalam rangka merayakan hari ulang tahun (HUT) yang ke-70, Guru Besar Parasitologi dan Entomologi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Dr drh Singgih H Sigit, M.Sc, meluncurkan bukunya "Hama Permukiman Indonesia: Pengenalan, Biologi dan Pengendalian" di Bogor, awal pekan ini.
Prof Singgih yang masih aktif sebagai Kepala Unit Kajian Pengendalian Hama Permukiman (UKPHP) FKH IPB ini memberikan pandangan-pandangannya mengenai masalah hama permukiman di Indonesia dan upaya dalam penanggulangannya.

"Sebenarnya permukiman dapat mencegah timbulnya masalah hama yang mengganggu penghuninya, yaitu dengan cara menjaga dan mengelola lingkungan sedemikian rupa sehingga tidak kondusif bagi keberadaan hama," kata dia.

Menurut Prof Singgih, peniadaan tempat-tempat yang dapat menjadi habitat dan persembunyian serta pengelolaan limbah yang tertib dan teratur adalah cara-cara yang pada dasarnya dapat dilaksanakan secara individual atau kolektif. Hanya saja, ia menyayangkan, pada kenyataannya kebanyakan dari masyarakat lebih memilih sikap yang disebutnya "baru akan bertindak ketika masalahnya tiba".

Singgih mengatakan sikap tersebut agaknya dilandasi kenyataan bahwa sarana anti hama mudah diperoleh di pasaran, atau kalau perlu dapat menggunakan jasa pengendalian hama yang dewasa ini mulai banyak beroperasi, dan salah satunya adalah penggunaan pestisida.


RisikoPestisida

Prof Singgih menyatakan penggunaan pestisida—baik oleh kalangan individu permukiman atau para pengusaha pengendalian hama—bukannya tanpa risiko. Risiko itu, adalah kemungkinan bahaya keracunan langsung, pencemaran lingkungan yang berakibat kelainan kronis, serta timbulnya galur-galur hama resisten yang sudah cukup kita sadari.

Sementara itu, pihak operator pengendalian hama menanggapinya dengan pelatihan-pelatihan sedangkan pada tingkat pemerintahan sebagai pembina, melakukan penertiban regulator dan pengawas dengan peraturan perundangan. "Pertanyaannya, seberapa jauh pembinaan dan pengawasan itu dilakukan, serta sanksi apa bila aturan tersebut tidak dituruti," katanya.


Solusinya, kata dia, yang terpenting dari semua itu adalah harus diperhatikan kualifikasi para personil yang bertugas membina dan mengawasi pelaksanaan pegendalinan hama permukiman itu. Bukan itu saja, pemikirannya dalam upaya penanggulangan hama permukiman ternyata sudah dirancang, di antaranya menyarankan untuk menciptakan program penyuluhan kepada masyarakat mengenai perlunya mencegah terjadinya hama permukiman. Sasarannya adalah kepada murid sekolah, karang taruna,
Pramuka, organisasi pemuda, Posyandu, dan sebagainnya. "Kiranya mereka dapat dijadikan sasaran penyuluhan untuk menciptakan kesadaran akan pentingnya partisipasi masyarakat," katanya.
Kemudian, perlunya peningkatan pembinaan SDM pelaksana pengendalian hama permukiman, dengan penetapan "kompetensi standar" bagi pelakunya, seperti teknisi, supervisor, manajer teknis dan sebagainya.

"Dalam rangka meningkatkan mutu SDM tersebut diperlukan suatu institusi yang dapat dianggap sebagai induk pendidikan khusus bagi profesi pengendalian hama permukiman tersebut, di samping UKPHP-FKH IPB," katanya.

Ia juga menambahkan akan pentingnya sosialisasi kepada masyarakat tentang profesi pengendalian hama ini, supaya menarik minat pemuda agar terjun dalam bidang ini. "Penanganan hama permukiman secara menyeluruh tidak dapat dilakukan oleh satu sektor saja, tetapi harus kerja sama lintas sektor. Tidak mendadak, tetapi berkesinambungan dan tidak asal bertindak, tetapi didasari konsep yang jelas. Dan yang paling penting adalah perlu adanya reorientasi dan revitalisasi dinas-dinas kesehatan terhadap masalah kesehatan lingkungan," katanya. (sumber sinar harapan.co.id)

0 komentar: